Temuan utama

Cover Image
St Stev
Temuan utama

Asia sedang menjadi pusat dunia, tempat setengah populasinya, mesin bagi ekonominya, penggerak inovasi teknologi dan garis depan kompetisi geopolitik global. Memahami Asia sekarang sangatlah penting, dan karena itu dunia memerlukan jurnalisme bermutu di Asia.

Populisme yang intoleran, yang sering kali disemaikan di media sosial, juga menjadi tantangan bagi media di Asia.​ Dalam beberapa kasus, tren ini bahkan menempatkan para jurnalis sebagai ‘paria’ di mata khalayak ramai.

Read more

Perilaku audiens di Asia berubah banyak dalam lima tahun terakhir: seiring dengan meningkatnya misinformasi dan turunnya kepercayaan terhadap berita, banyak media berupaya meyakinkan audiens agar mulai membayar untuk berita, dengan hasil yang beragam.​

Read more

Pagebluk memberi tekanan baru pada kondisi keuangan perusahaan media.​ Namun, di saat bersamaan, pandemi juga meningkatkan permintaan publik akan informasi akurat dan jurnalisme bermutu. Pada lingkungan yang bergejolak semacam ini, tantangan yang dihadapi media tradisional justru menciptakan ruang bagi media rintisan (start-up) dan pendekatan baru dalam cara melaporkan berita.

Read more

Namun, pemain media pemberitaan baru di Asia masih menghadapi sejumlah hambatan signifikan untuk memasuki industri ini dibandingkan di Amerika Serikat dan Eropa.​ Yang paling utama adalah kurangnya pendanaan untuk liputan orisinal dan jurnalisme dengan model bisnis baru (entrepreneurial journalism).

Read more

Pengusiran jurnalis internasional oleh pemerintah Tiongkok akan makin menyulitkan dunia luar memahami apa yang sedang terjadi di sana.​ Sebaliknya, kondisi ini bakal memudahkan Beijing menyampaikan versi kebenarannya sendiri pada khalayak ramai tanpa hambatan, terlebih dengan semakin canggihnya mereka memanfaatkan media sosial.

Read more

Myanmar merupakan studi kasus tentang tantangan dan peluang yang dihadapi media di Asia. Kudeta di sana disusul dengan pemberangusan terhadap pers bebas dan penutupan nyaris total akses internet.​ Tetapi kondisi ini juga memberi ruang buat berbagai cara cerdas mendistribusikan berita dan gambar, serta menciptakan ikatan solidaritas baru antar asosiasi media di kawasan ini.

Read more

Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa terus menekan keuntungan media tradisional, walaupun pengalaman Australia menunjukkan bagaimana aturan soal kompetisi bisa mengurangi sebagian tekanan itu.​ Negara-negara lain memantau perkembangan ini dengan saksama.

Read more

Tetapi platform teknologi juga memberi banyak kontribusi positif pada masa depan jurnalisme di kawasan ini, meningkatkan standar pemeriksaan fakta dan menjadi pendana utama untuk jurnalisme inovatif.​

Read more

Meski independensi lembaga penyiaran di Asia terus tertekan, mereka masih menjalankan peran utama di banyak negara di Asia. Sering kali pentingnya keberadaan mereka justru terbukti dalam masa darurat dan bencana alam.​ Pandemi ini salah satu contoh kasusnya.

Read more

Masih ada potensi besar bagi negara-negara Asia untuk menggunakan lembaga penyiaran nasional, dan media dalam skala yang lebih luas, untuk memperkuat pengaruh mereka. Tetapi, sering kali, penggunaan media untuk diplomasi publik di Asia masih mengandalkan kebetulan-​kebetulan semata ketimbang hasil pertimbangan strategis.​

Read more

Pendeknya, lingkungan media pemberitaan di Asia merupakan kombinasi rumit antara ancaman, peluang dan ketidakpastian. Yang jelas, keberadaan jurnalisme bermutu kian penting untuk memahami apa yang terjadi di bagian dunia yang paling penting ini.

Image credits: Rafael Banha, Chairman of the Joint Chiefs of Staff, Robert Couse-Baker, YunHo Lee, Michael Amadeus, Justin Case, Jonny Clow, Hanson Lu, M.O., JJ Harrison, Ahmed Shabana, ITU Pictures.

Read next Next
About the News in Asia report

JNI’s Executive Director Mark Ryan explains what the report sets out to achieve

About the _News in Asia_ report